Kaizen: Mengatasi Malas ala Jepang
By : Konita Hayyun Amalia
Masyarakat Jepang terkenal akan
profesionalitas mereka, hal ini tentu tidak luput dari filosofi yang mereka
percayai serta kemampuan untuk mengaplikasikannya. Salah satu filosofi tersebut
adalah Kaizen. Kata kaizen berasal dari kata ‘kai’ (berubah) dan ‘zen’ (kebijaksanaan)
atau dapat disimpulkan: Perubahan dalam hidup bisa dicapai secara perlahan
dengan penuh kebijaksanaan. Prinsip kaizen ini juga disebut sebagai prinsip
Satu Menit, yaitu: Melatih seseorang melakukan sesuatu dalam satu menit setiap
hari dan di waktu yang sama. Digunakan sebagai sarana untuk melakukan
perbaikan-perbaikan kecil secara konsisten sehingga menjadi kebiasaan dan
membawa dampak pada kesuksesan. Kaizen sangat menjunjung value, yang
mana kita perlu menyeimbangkan quality, service, cost, dan
time. Apabila terdapat aspek yang lebih rendah dari yang lain, maka hal
tersebut menandakan bahwa kita tidak memiliki value.
Prinsip Kaizen ini dapat diterapkan dalam
keseharian kita, karena mampu memberi dampak pada personal growth dan
sekitar kita. Hal ini dapat diterapkan dalam bentuk 5R, di antaranya: Pertama,
Ringkas (memilah barang yang kita butuhkan, selebihnya bisa disingkirkan atau
hancurkan); Kedua, Rapi (menyusun barang-barang sesuai tempatnya); Ketiga,
Resik (menjaga kebersihan lingkungan); Keempat, Rawat (dalam hal ini kita
semestinya memaintain tiga prinsip sebelumya: Ringkas, Rapi, Resik);
Kelima, Rajin (membudayakan prinsip 5R setiap waktu setiap saat). Hal penting lainnya
yang diperlukan agar mampu memiliki value dan menjadi produktif adalah
kecepatan belajar dan ketepatan. Dengan mempertahankan praktik 5R ini, tentu
akan menghemat waktu dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Selain prinsip 5R, Kaizen juga dapat
digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan atau goals kita. Dewasa ini
banyak dari kita merasa malas dalam melakukan hal-hal yang dirasa cukup
penting. Seringkali kita berprokrastinasi, sehingga hal tersebut menghambat
kita dalam mencapai tujuan. Seperti menunda mengerjakan tugas harian, tugas
kuliah dan sebagainya. Dalam mengatasinya, di sini prinsip satu menit dapat
digunakan. Sebagai contoh, tujuan kita adalah memiliki hafalan ‘kanji’ (aksara
Jepang’) maka dalam upaya mencapai tujuan tersebut kita meluangkan waktu satu
menit pada jam tujuh malam untuk menghafal kanji. Memang dirasa kanji yang kita
hafal tidak seberapa banyak namun melakukan hal ini setiap hari dapat melatih
tanggung jawab dan kebiasaan kita. Setelah menyelesaikan kewajiban satu menit
ini, kita dapat merasakan proses kecil dalam memenuhi tugas kita, sehingga pada
saat-saat selanjutnya akan membuat kita ketagihan dan memperpanjang durasi
belajar kita. Proses satu menit ini dapat membuat kita melawan rasa malas dan
menunda pekerjaan. Sedikit tapi rutin mampu membuat kita lebih mudah memahami
sesuatu serta membangun habits, daripada banyak namun tidak rutin tentu
akan membuat kita mudah lupa dan terasa lelah. Jadi kapan kamu mau meluangkan
waktu satu menit setiap harinya yang memungkinkan hal tersebut akan mengubah
hidupmu?
Referensi:
https://www.tsm.ac.id/menjadi-lebih-produktif-dengan-menggunakan-kaizen/


