Kamis, 05 September 2024

Menggali Makna Hidup dengan Konsep Ikigai



Hai-hai Fellas!! Pernahkah kamu merasa bingung dengan arah hidup? Atau mungkin bertanya-tanya, apa sih tujuan hidupmu sebenarnya? Kalau iya, kamu bukan satu-satunya. Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak dari kita yang merasa kehilangan arah atau motivasi. Nah, di Jepang, ada konsep yang menarik dan bisa membantu kita menjawab pertanyaan ini, yakni ikigai.

Secara sederhana, ikigai adalah alasan seseorang untuk bangun di pagi hari. Kata ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jepang: iki yang berarti "hidup" dan gai yang berarti "nilai". Jadi, ikigai bisa diartikan sebagai "nilai dalam hidup" atau "alasan untuk hidup". Konsep ini berakar pada budaya Jepang yang menghargai keseimbangan dan kebahagiaan sederhana.

Ikigai sering digambarkan dengan diagram berupa empat lingkaran yang saling bertumpuk. Lingkaran-lingkaran ini merepresentasikan:

  1. Apa yang kamu cintai (passion)
  2. Apa yang kamu kuasai (profession)
  3. Apa yang dibutuhkan dunia (mission)
  4. Apa yang bisa memberimu penghasilan (vocation)

Di tengah tumpang tindih keempat lingkaran ini, di situlah ikigai berada. Jadi, ikigai adalah titik temu antara passion, skill, kebutuhan dunia, dan penghasilan.

Konsep ikigai tidak hanya membuat hidup lebih bermakna, tetapi juga membantu kita menemukan kebahagiaan. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki tujuan hidup dapat meningkatkan kesehatan mental, memperpanjang usia, dan membuat kita lebih produktif. Di Jepang, khususnya di daerah Okinawa yang dikenal sebagai "Pulau Para Lansia", ikigai dianggap salah satu alasan mengapa banyak penduduknya hidup sehat hingga usia lanjut.

Menemukan ikigai memang bukan proses instan. Tapi, kamu bisa mulai dengan bertanya pada dirimu sendiri: Apa yang benar-benar kamu nikmati? Apa yang kamu lakukan dengan baik? Apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu orang lain? Apa yang bisa memberikanmu penghasilan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi petunjuk awal untuk menemukan ikigai-mu. Cobalah untuk mengeksplorasi hobi, pekerjaan, atau bahkan aktivitas sederhana yang membuatmu merasa hidup.

Ikigai bukan hanya soal menemukan pekerjaan impian atau menjalani hidup mewah. Sering kali, ikigai terletak pada hal-hal kecil yang membuat hidup lebih berarti, seperti menikmati secangkir kopi di pagi hari, mengobrol dengan teman, atau membantu orang lain. Yang penting, kamu merasa hidupmu punya arah dan tujuan.

Demikian, ikigai mengajarkan kita bahwa hidup yang bermakna tidak selalu harus rumit. Dengan memahami apa yang kita cintai, kuasai, butuhkan, dan bisa hasilkan, kita bisa menemukan kebahagiaan dalam perjalanan hidup. Jadi, sudahkah kamu menemukan ikigai-mu? Kalau belum, tidak apa-apa. Perjalanan menemukan ikigai adalah proses yang berharga dan layak untuk dijalani.



 

Sabtu, 17 Agustus 2024

Mengenal Sejarah Afternoon Tea, Budaya Minum Teh Dari Inggris Raya

sumber : herworld.co.id

Teh, minuman yang kini identik dengan budaya Inggris, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan kaum bangsawan. Perjalanan teh ke Inggris dimulai pada abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Inggris mulai mengimpor teh dari Cina.

Pada awalnya, teh adalah minuman mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas masyarakat Inggris. Harganya yang tinggi dan kelangkaannya menjadikan teh sebagai simbol status dan kebangsawanan. Raja Charles II dan istrinya, Catharine of Braganza, memainkan peran penting dalam mempopulerkan teh di kalangan bangsawan Inggris pada tahun 1660-an. Kebiasaan minum teh di kalangan bangsawan berkembang menjadi ritual sosial yang kompleks. "Afternoon tea" atau teh sore, yang diperkenalkan oleh Anna, Duchess of Bedford, pada tahun 1840-an, menjadi tradisi penting dalam kehidupan sosial kaum elit. Ritual ini biasanya diadakan antara pukul 4 dan 5 sore, melibatkan penyajian teh beserta makanan ringan seperti sandwich, kue-kue kecil, dan scone.

Perkembangan ini mendorong munculnya peralatan teh yang mewah dan canggih. Set teh perak, cangkir porselen halus, dan aksesori teh lainnya menjadi barang-barang yang sangat diinginkan dan menunjukkan kekayaan serta status sosial pemiliknya. Pabrik-pabrik terkenal seperti Wedgwood dan Royal Doulton mulai memproduksi peralatan teh berkualitas tinggi untuk memenuhi permintaan pasar kelas atas. Teh juga mempengaruhi arsitektur dan desain interior rumah-rumah bangsawan. Ruang teh khusus mulai muncul di manor house dan istana-istana, sering kali dihiasi dengan lukisan-lukisan indah dan perabotan mewah. Taman-taman juga dirancang dengan area khusus untuk menikmati teh di luar ruangan pada hari-hari yang cerah.

Seiring waktu, kebiasaan minum teh mulai menyebar ke kelas menengah. Namun, kaum bangsawan tetap mempertahankan tradisi mereka yang lebih mewah dan formal. Mereka sering mengadakan "garden party" besar dengan teh sebagai fokus utama, yang menjadi ajang penting untuk bersosialisasi dan menunjukkan status.

Penjajahan Inggris di India pada abad ke-19 membawa perubahan besar dalam industri teh. Perkebunan teh di India dan Ceylon (sekarang Sri Lanka) mulai memproduksi teh dalam jumlah besar, membuat harganya lebih terjangkau. Meskipun demikian, teh tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup bangsawan, dengan varietas dan campuran khusus yang hanya tersedia untuk kalangan elit.

Pada awal abad ke-20, tradisi teh bangsawan mengalami tantangan dengan perubahan sosial yang terjadi setelah Perang Dunia I. Namun, banyak aspek dari tradisi ini tetap bertahan dan bahkan diadopsi oleh hotel-hotel mewah dan restoran high-end, yang menawarkan pengalaman "afternoon tea" bergaya bangsawan kepada publik yang lebih luas. Hingga saat ini, teh tetap menjadi bagian integral dari budaya Inggris, melampaui batas-batas kelas sosial. Namun, pengaruh sejarah teh bangsawan masih terasa dalam berbagai aspek, mulai dari etiket minum teh hingga desain peralatan teh mewah. Warisan ini terus memperkaya dan membentuk hubungan unik antara Inggris dan minuman yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasionalnya.



Rabu, 03 April 2024

TAKJIL UNTUK SEMUA, MENEBAR KEBAIKAN DI BULAN SUCI RAMADHAN

(anggota UPBA membagikan takjil di depan UINSA) 

SURABAYA, U-NEWS — Pada bulan suci Ramadhan, banyak orang bersaing untuk melakukan perbuatan baik, yang tentunya merupakan hal yang layak untuk dijadikan contoh. Salah satu fenomena yang selalu menghiasi bulan Ramadhan adalah momen berbagi takjil di pinggir jalan. Tindakan sederhana ini memiliki makna yang dalam, karena tidak hanya memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, tetapi juga menjadi wujud nyata dari solidaritas dan kepedulian sosial.

Pada tanggal 1 April 2024 yang lalu, Organisasi Unit Pengembangan Bahasa Asing (UPBA) telah melaksanakan kegiatan berbagi takjil sebagaimana yang telah terencana dalam program kerja divisi hubungan dan pengabdian masyarakat. Seiring dengan semangat kebersamaan, teman-teman UPBA berkumpul pukul 15.00 WIB untuk memulai proses pembungkusan takjil yang akan dibagikan. Dalam suasana yang penuh keceriaan dan kebersamaan, mereka saling membantu dan bekerja sama untuk menyiapkan takjil tersebut. Setelah selesai proses pembungkusan, takjil siap dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas di depan UIN Sunan Ampel Surabaya. Melalui tindakan ini, UPBA tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sekitar, tetapi juga menyebarkan semangat kebaikan dan kepedulian kepada sesama.  

Setelah selesai membagikan takjil, teman-teman UPBA tidak lupa untuk menyiapkan nasi sebagai persiapan untuk agenda selanjutnya, yaitu buka bersama. Acara buka bersama menjadi momen yang dinanti-nantikan, di mana teman-teman UPBA dapat saling mengenal satu sama lain yang kemudian berakhir dengan saling tukar akun Instagram. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terlihat betapa pentingnya semangat kebersamaan dan kepedulian sosial dalam memperkuat hubungan antar anggota organisasi serta menjalin koneksi yang lebih erat dengan masyarakat sekitar.


(foto bersama anggota UPBA dalam agenda UPBA Berbagi) 

Ketika adzan maghrib berkumandang, teman-teman UPBA pun membatalkan puasanya. Mereka dengan penuh rasa syukur akan nikmat yang diberikan Allah SWT, segera mengambil posisi untuk memulai proses berbuka. Setelah berbuka, suasana pun tak langsung berakhir. Perkumpulan masih berlanjut dengan suasana yang penuh kebersamaan. Ada yang sibuk membersihkan sisa-sisa makanan dan ada pula yang masih terjebak dalam percakapan hangat. Setelah selesai, perkumpulan ditutup dengan do’a kafarotul majlis yang kemudian teman-teman UPBA melanjutkan agenda mereka lainnya.

 




Selasa, 02 April 2024

BERPUASA BUKANLAH ALASAN UNTUK MENJADI TIDAK PRODUKTIF: FORUM MUSYAWARAH KERJA UPBA 2024 DILAKSANAKAN SECARA DARING

(Dokumentasi pengurus UPBA pada musyawarah kerja 2024)

SURABAYA, U-NEWS — Unit Pengembangannya Bahasa Asing (UPBA) telah menyelenggarakan musyawarah kerja (Musker) pada hari Minggu, 31 Maret 2024 dan dilaksanakan secara daring. Acara penting ini dihadiri oleh para demisinioner serta perwakilan dari DEMA, SEMA, HMP, UKM Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, tak lupa juga dihadiri oleh anggota aktif organisasi UPBA dari berbagai angkatan. Kehadiran mereka dalam acara ini menunjukkan komitmen dan antusiasme untuk memajukan organisasi ke arah yang lebih baik. Musyawarah kerja tahun ini dengan tema “Continuous Improvement: Driving Excellence in Every Aspect” dengan tujuan agar periode ini dapat mengalami perkembangan dan keunggulan dalam setiap bidangnya.

Prosesi pembukaan musyawarah kerja dimulai dengan sambutan hangat dari ketua umum UPBA, Chalimatus Syuroyyah, kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh ketua pelaksana musyawarah kerja, Syaharani Zahro.

Sebelum memasuki agenda inti, seluruh peserta musker diingatkan untuk mematuhi kontrak forum yang dibacakan. Kontrak forum ini berisi aturan dan etika yang harus dipatuhi selama berlangsungnya musker agar terciptanya suasana yang kondusif dan produktif.  

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sidang ratatib yang fokus membahas rancangan tata tertib organisasi. Dalam sidang ini, seluruh peserta sidang berkesempatan untuk memberikan masukan dan saran perbaikan terkait tata tertib agar lebih relevan dengan kondisi terkini.  

Agenda berikutnya adalah sidang AD/ART yang menjadi momen krusial karena membahas anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Dengan berlandaskan evaluasi, setiap poin dalam AD/ART dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika organisasi ke depan. Proses ini membutuhkan kehati-hatian dan kecermatan dari semua pihak.

Setelah melalui dua sidang sebelumnya, agenda berlanjut dengan sidang komisi. Dalam sidang ini, setiap komisi atau divisi memaparkan rancangan program kerja yang akan dilaksanakan di periode mendatang. UPBA sendiri memiliki 6 komisi, yaitu Komisi A/Badan Pengurus Harian, Komisi B/Pengembangan Bahasa Asing, Komisi C/Pengembangan dan Kaderisasi, Komisi D/Hubungan dan Pengabdian Masyarakat, Komisi E/Publikasi dan Aktualisasi, serta Komisi F/Pengembangan Minat dan Bakat. Setiap komisi menyajikan ide-ide inovatif, tujuan program, serta strategi pelaksanaan yang matang. Seluruh peserta musyawarah kerja terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan memberikan masukan serta kritik yang membangun untuk menyempurnakan setiap program kerja, yang akhirnya semua program kerja dapat disepakati dan siap untuk diimplementasikan.

Setelahnya, dilanjutkan dengan sidang paripurna, di mana dari ratatib hingga komisi yang telah direvisi dibacakan. Meskipun sidang ini berlangsung cukup lama, namun beruntungnya tidak melewati batas waktu yang telah ditentukan dalam rundown.

Musyawarah kerja kemudian ditutup dengan sambutan dari Ketua Umum dan Ketua Pelaksana. "Alhamdulillah, musyawarah kerja berjalan lancar. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para demisioner UPBA, ketua DEMA FTK, SEMA FTK, UKM FTK, HMP se-FTK serta semua peserta musyawarah kerja yang telah meluangkan waktunya untuk hadir dalam zoom meeting hari ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pengurus UPBA yang telah berkontribusi dalam acara ini sehingga berjalan dengan sukses," ujar Ketua Pelaksana, Syaharani Zahro. Acara kemudian ditutup dengan doa sekaligus dokumentasi pengurus musyawarah kerja tahun 2024.