Senin, 29 Mei 2023

Pelonggaran Wisatawan LGBT dan Masa Depan Arab Saudi

Pelonggaran Wisatawan LGBT dan Masa Depan Arab Saudi

By : Galib A. Bahari

Foto: Perayaan Halloween dimulai di Riyadh, Arab Saudi. Acara ini berlangsung dua hari, 27-28 Oktober. (REUTERS/AHMED YOSRI)

    Wisatawan mancanegara dapat memberikan manfaat kepada suatu negara seperti meningkatkan pendapatan devisa, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, merangsang pertumbuhan industri, dan lain sebagainya. Dengan keuntungan tersebut, negara-negara berupaya untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berwisata di negaranya. Berbagai upaya dilakukan oleh suatu negara seperti mengadakan event internasional, melakukan pembangunan fasilitas wisata, hingga melegalkan aturan yang harusnya dilarang di negara tersebut.

    Negara yang melakukan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dengan mengadakan event internasional seperti yang dilakukan oleh Indonesia. Indonesia mengadakan event internasional dengan mengadakan MotoGP Mandalika, Nusa Tenggara Barat jumlah wisatawan mancanegara meningkat sebanyak 1.286 wisatawan mancanegara pada Maret 2022 (NTB Satu Data).

    Namun terdapat negara yang melegalkan aturan yang harusnya dilarang di negara tersebut seperti Arab Saudi. Pada Mei 2023 di situs resmi pariwisata kerjaan visitsaudi.com menjawab pertanyaan wisatawan apakah pengunjung LGBT diperbolehkan berkunjung ke Arab Saudi. Situs tersebut menjawab bahwa setiap orang diizinkan mengunjungi Arab Saudi dan para pendatang tidak akan ditanyakan pertanyaan personal secara detail tapi, tolong hargai adat istiadat setempat dan berperilaku sesuai saat berada ditempat umum (CNBC Indonesia, 2023).

    Pernyataan tersebut tentunya berbanding terbalik dengan budaya konservatif dan interpretasi hukum syariah islam yang melarang homoseksualitas. Seperti yang kita ketahui hubungan sesama jenis di negara Arab Saudi dapat dihukum cambuk hingga di hukum mati. Selain itu, dengan adanya pernyataan tersebut membuktikan bahwa kerajaan tidak konsisten dalam menerapkan hukum syariat islam terhadap pelaku homoseksualitas.

    Seperti yang kita tahu bahwa akhir-akhir ini Arab Saudi melakukan perubahan-perubahan, seperti pada tahun 2021 pantai khusus Pure Beach di buka di Jeddah di Laut Merah yang menjadi pantai pertama wanita bisa mengenakan bikini.

    Kebijakan-kebijakan tersebut dilakukan oleh Arab Saudi tidak lain adalah untuk menarik wisatawan mancanegara karena saat ini Arab Saudi sedang berambisi memajukan sektor pariwisata dengan membangun proyek-proyek megah dan futuristic untuk menarik wisatawan asing dan wisatawan kelas menengah keatas.  Disisi lain, dalam hal mengizinkan turis LGBT berkunjung, Arab Saudi meniru negara tetangganya yakni Uni Emirat Arab dan Qatar yang mengizinkan kaum LGBT untuk menggenjot pariwisata (CNN Indonesia, 2023).

    Dalam menggenjot pariwisata, Arab Saudi sebagai negara muslim dan menegakkan hukum syariat islam tentunya harus menegakkan hukum syariat islam dengan konsisten. Arab Saudi dapat membuka pariwisata dari berbagai kalangan. Disamping itu, untuk meningkatkan jumlah wisatawan, Arab Saudi juga dapat mengadakan event internasional yang mendatangkan banyak wisatawan. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Arab Saudi hal ini tentunya dapat menambah devisa negara dan meningkatkan perekonomian negara yang tidak hanya didapat dari haji dan umroh.

    Namun, dilain sisi Arab Saudi harus menjadi negara yang terus menegakkan hukum syariat islam. Dengan demikian, apabila terdapat wisatawan yang melakukan tindakan homoseksual atau tindakan yang melanggar syariat islam harus dihukum sesuai dengan syariat islam yang berlaku yakni di cambuk bahkan di hukum mati.

    Hal tersebut dapat menjadi peringatan bagi wisatawan bahwa tidak boleh melakukan kegiatan yang bertentangan dengan budaya dan hukum syariat Islam yang berlaku di negara tersebut. Selain itu hal tersebut dapat memberi peringatan bahwa hukum syariat islam masih ditegakkan di Arab Saudi. 

0 komentar:

Posting Komentar