Pelonggaran Wisatawan LGBT dan Masa Depan Arab Saudi
By : Galib A. Bahari
Foto: Perayaan Halloween dimulai di Riyadh, Arab Saudi. Acara ini berlangsung dua hari, 27-28 Oktober. (REUTERS/AHMED YOSRI)
Wisatawan
mancanegara dapat memberikan manfaat kepada suatu negara seperti meningkatkan
pendapatan devisa, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, merangsang pertumbuhan
industri, dan lain sebagainya. Dengan keuntungan tersebut, negara-negara
berupaya untuk menarik wisatawan mancanegara untuk berwisata di negaranya.
Berbagai upaya dilakukan oleh suatu negara seperti mengadakan event
internasional, melakukan pembangunan fasilitas wisata, hingga melegalkan aturan
yang harusnya dilarang di negara tersebut.
Negara
yang melakukan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dengan mengadakan event
internasional seperti yang dilakukan oleh Indonesia. Indonesia mengadakan event
internasional dengan mengadakan MotoGP Mandalika, Nusa Tenggara Barat jumlah wisatawan mancanegara meningkat sebanyak 1.286 wisatawan mancanegara pada
Maret 2022 (NTB Satu Data).
Namun
terdapat negara yang melegalkan aturan yang harusnya dilarang di negara
tersebut seperti Arab Saudi. Pada Mei 2023 di situs resmi pariwisata kerjaan
visitsaudi.com menjawab pertanyaan wisatawan apakah pengunjung LGBT
diperbolehkan berkunjung ke Arab Saudi. Situs tersebut menjawab bahwa setiap
orang diizinkan mengunjungi Arab Saudi dan para pendatang tidak akan ditanyakan
pertanyaan personal secara detail tapi, tolong hargai adat istiadat setempat
dan berperilaku sesuai saat berada ditempat umum (CNBC Indonesia, 2023).
Pernyataan
tersebut tentunya berbanding terbalik dengan budaya konservatif dan
interpretasi hukum syariah islam yang melarang homoseksualitas. Seperti yang
kita ketahui hubungan sesama jenis di negara Arab Saudi dapat dihukum cambuk
hingga di hukum mati. Selain itu, dengan adanya pernyataan tersebut membuktikan
bahwa kerajaan tidak konsisten dalam menerapkan hukum syariat islam terhadap
pelaku homoseksualitas.
Seperti
yang kita tahu bahwa akhir-akhir ini Arab Saudi melakukan perubahan-perubahan, seperti pada tahun 2021 pantai khusus Pure Beach di buka di Jeddah di Laut
Merah yang menjadi pantai pertama wanita bisa mengenakan bikini.
Kebijakan-kebijakan
tersebut dilakukan oleh Arab Saudi tidak lain adalah untuk menarik wisatawan
mancanegara karena saat ini Arab Saudi sedang berambisi memajukan sektor
pariwisata dengan membangun proyek-proyek megah dan futuristic untuk menarik
wisatawan asing dan wisatawan kelas menengah keatas. Disisi lain, dalam hal mengizinkan turis LGBT
berkunjung, Arab Saudi meniru negara tetangganya yakni Uni Emirat Arab dan Qatar
yang mengizinkan kaum LGBT untuk menggenjot pariwisata (CNN Indonesia, 2023).
Dalam
menggenjot pariwisata, Arab Saudi sebagai negara muslim dan menegakkan hukum
syariat islam tentunya harus menegakkan hukum syariat islam dengan konsisten.
Arab Saudi dapat membuka pariwisata dari berbagai kalangan. Disamping itu,
untuk meningkatkan jumlah wisatawan, Arab Saudi juga dapat mengadakan event internasional yang mendatangkan
banyak wisatawan. Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Arab Saudi hal
ini tentunya dapat menambah devisa negara dan meningkatkan perekonomian negara
yang tidak hanya didapat dari haji dan umroh.
Namun,
dilain sisi Arab Saudi harus menjadi negara yang terus menegakkan hukum syariat
islam. Dengan demikian, apabila terdapat wisatawan yang melakukan tindakan
homoseksual atau tindakan yang melanggar syariat islam harus dihukum sesuai
dengan syariat islam yang berlaku yakni di cambuk bahkan di hukum mati.
Hal tersebut dapat menjadi peringatan bagi wisatawan bahwa tidak boleh melakukan kegiatan yang bertentangan dengan budaya dan hukum syariat Islam yang berlaku di negara tersebut. Selain itu hal tersebut dapat memberi peringatan bahwa hukum syariat islam masih ditegakkan di Arab Saudi.
0 komentar:
Posting Komentar