Selasa, 29 Juni 2021

Merenggut Bayang Dalam Benak

 

Merenggut Bayang Dalam Benak


Ribuan detik telah menghinaku

Aku tak bisa lelap dalam malam abu-abu

Mengingat hari di mana kau menangis tergugu

Berharap naungan kabut melebur kelabu

Sejak aku memilih untuk bersamamu

Kukira semuanya telah berubah

Kukira kabut itu telah meninggalkanmu

Tetapi aku tak tahu bahwa kau sudah lelah

Kau tertawa, tetapi matamu tidak

Seolah ada lubang besar menganga di sana

Kabut itu masih meninggalkan jejak

Hingga kau memutuskan untuk mengakhirinya

Sungguh, kau hanya memikirkan diri sendiri

Aku tak dapat lagi menggenggam tanganmu

Jiwamu, ah, ternyata tak pernah bisa kugapai

Aku selalu sendirian sejak hari itu

Rasanya ingin sekali aku bisa merelakanmu

Balutan kekosongan ini melingkupi jiwaku

Andaikan saja kau bisa renggut semua kesepianmu

Kau pasti ada di sini, hidup, hingga kabut berlalu

Mutiarizki Hapsari

Sosok-Biografi Singkat RA Kartini, Sang Pahlawan Emansipasi Wanita

Sosok-Biografi Singkat RA Kartini, Sang Pahlawan Emansipasi Wanita

 


Ibu kita Kartini,

Putri sejati

Putri Indonesia

Harum namanya…

 

Ibu kita Kartini,

Pendekar bangsa

Pendekar kaumnya

Untuk merdeka…

 

Wahai ibu kita Kartini,

Putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya

Bagi Indonesia…

 

Lagu yang ditulis oleh Wage Rudolf Supratman ini mungkin sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Biasanya, lagu ini akan digaungkan di seluruh penjuru negeri ketika tanggal 21 April. Lantas, siapakah sebenarnya Kartini itu? Mengapa sosoknya begitu penting sehingga diabadikan dalam sebuah lagu? Bagaimana kehidupan Kartini dari kecil hingga wafat? Mari kita simak biografi singkatnya berikut ini.

Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat atau lebih dikenal dengan RA Kartini adalah seorang pahlawan emansipasi wanita Indonesia. RA. Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Kartini berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Itulah sebabnya disematkan gelar Raden Adjeng didepan namanya. Setelah menikah, gelar Raden Adjeng berubah menjadi Raden Ayu.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Ayah Kartini bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang merupakan bupati Jepara. Sedangkan ibunya bernama Mas Adjeng Ngasirah, putri seorang Kyai dari Teluwakur, Jepara. Mas Adjeng Ngasirah bukan dari kalangan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa. Kala itu, peraturan kolonial Belanda mengharuskan seorang bupati menikah dengan perempuan yang juga berasal dari kalangan bangsawan agar dapat menjabat sebagai bupati. Oleh karena itu, ayah Kartini menikah lagi dengan RA. Woerjan/Moerjam yang merupakan keturunan bangsawan Madura.

 

Pendidikan Kartini

Sebagai bangsawan, sudah selayaknya Kartini mendapatkan pendidikan. Beliau bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disinilah beliau dapat belajar bahasa Belanda hingga berusia 12 tahun. Akan tetapi setelah itu, oleh karena kebiasaan pada masa itu, seorang anak perempuan harus menjalani pingitan sejak mendapatkan menstruasi pertama. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Kartini untuk tetap belajar. Kartini aktif dalam melakukan surat-menyurat dengan teman-temannya di Belanda. Melalui kegiatan surat-menyurat tersebut, Kartini saling bertukar pikiran dengan teman-temannya tersebut. Selain itu, Kartini juga gemar membaca surat kabar dan majalah serta buku-buku berbahasa Belanda. Dari sinilah Kartini mempelajari pola pikir perempuan Eropa. Dari apa yang dipelajari oleh Kartini, kehidupan perempuan di Eropa dengan kehidupan perempuan pribumi Indonesia sangatlah berbeda. Perempuan pribumi Indonesia memiliki status sosial yang sangat rendah dan jauh tertinggal. Atas dasar inilah Kartini bercita-cita untuk memajukan perempuan pribumi dan mendirikan sekolah perempuan. Selain itu, Kartini juga memiliki bakat menulis. Beliau beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Kartini berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Akan tetapi, harapan itu pupus karena Kartini harus menikah. Akhirnya, beasiswa yang ia dapat untuk melanjutkan pendidikannya di Belanda diberikan pada Agus Salim. Namun, Agus Salim menolak tawaran beasiswa tersebut karena suatu hal.

Pernikahan dan Akhir Hayat Kartini

Pada usia 24 tahun, Kartini akhirnya menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang Bupati Rembang. Suaminya mendukung Kartini untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sekolah wanita. Kemudian Kartini melahirkan seorang putra yang diberi nama Soesalit Djojo Adhiningrat. Sayangnya, takdir berkata lain. 4 hari setelah melahirkan, Kartini mengembuskan napas terakhirnya.

Berkat perjuangan dan kegigihan Kartini, akhirnya pada tahun 1912 didirikan sekolah wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang. Sekolah ini kemudian disebut dengan “Sekolah Kartini”.

Kontroversi

Surat-surat yang ditulis Kartini semasa hidupnya berhasil dikumpulkan oleh J.H. Abendanon. Dari situlah kemudian disusun sebuah buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht. Buku ini lalu diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun, muncul perdebatan dan kontroversi mengenai surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Ada dugaan bahwa J.H. Abendanon merekayasa surat-surat tersebut. Kecurigaan ini timbul dikarenakan buku tentang Kartini tersebut terbit pada masa berlakunya kebijakan politik etis. Sedangkan J.H. Abendanon termasuk yang mendukung politik etis. Hingga saat ini pun, naskah asli surat-surat Kartini tidak diketahui keberadaannya.

Selain permasalahan yang telah disebutkan, peringatan Hari Kartini juga diperdebatkan. Ada pihak yang mengusulkan agar merayakan Hari Kartini sekaligus merayakan Hari ibu pada 22 Desember. Alasannya adalah supaya tidak terjadi pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan perempuan yang lain. Menurut mereka, perjuangan Kartini hanya sebatas di wilayah Jepara dan Rembang saja. Selain itu, Kartini juga tidak pernah mengangkat senjata melawan penjajah.

Peringatan Hari Kartini

            Atas jasa-jasa Kartini, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional serta menetapkan hari lahir Kartini untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar. Peringatan hari lahir Kartini ini kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

  

Nabilah Fatin Jaizaturrobii’

Apakah Kita Boleh "Overthinking" ???

 Apakah Kita Boleh "Overthinking" ???


Kali ini aku mau berbagi cerita terkait masalah yang sangat banyak dialami anak muda jaman sekarang ini nih, apasih masalah itu?

Masalah itu adalah overthinking atau terlalu banyak mikir.

Nah, sebenernya apa sih overthinking itu? Menurut aku pribadi overthingking adalah sebuah kasus dimana seseorang memikirkan sesuatu secara berlebihan, dan kebanyakan mereka belum mengetahui solusi dari suatu hal yang dipikirkan tersebut. Ada banyak sebab yang menjadikan seseorang overthinking.

Menurut saya sebab yang pertama ialah cemas karena jati diri yang belum ditemukan. Yang kedua adalah karena adanya masalah dengan lingkungan sekitar (keluarga,teman,dll) kemudian sebab ketiga adalah memikirkan masa depan yang belum pasti.

 

Nah, ketiga faktor tersebut yang banyak saya temukan di sekitar saya, baik dari pengalaman saya sendiri, pengalaman teman maupun cerita-cerita netizen. Biasanya overthinking  terjadi pada remaja yang hendak beralih pada masa dewasa. Pada masa ini memang menjadi pucak-puncaknya seseorang beradapatasi dari kehidupan remaja menjadi dewasa, dan di masa ini tuntutan hidup tampak nyata, seolah-olah segalanya tidak sesuai dengan apa yang kita eksprektasikan. Tak jarang banyak pula kejadian-kejadian diluar kendali kita terjadi begitu saja. Dan dari situlah kita menjadi berpikir kenapa semua ini terjadi. Dan lama-lama pikiran tersebut menjadi momok yang setiap saat dapat hinggap di otak kita. Namun kita tak tahu apa yang harus kita perbuat.

Lalu apakah sebenarnya kita itu boleh overthinking? Jawaban menurut saya ialah boleh,asalkan kita tidak stuck di pikiran tersebut. Maksudnya adalah boleh boleh saja kita overthinking, namun kita bisa bergerak untuk menyelesaikannya. misalkan saja jika kita memiliki masalah dengan keluarga, kita dapat menyelesaikannya dengan bicara baik-baik kepada orangtua, beri pengertian kepada orangtua bila kita memiliki perbedaan pendapat dengan mereka. Intinya semua dapat diselesaikan dengan kepala dingin, tak perlu kita terlalu memikirkan berlarut-larut sebuah masalah, karena masalah tak dapat terselesaikan dengan baik bila kita hanya memikirkannnya tanpa tahu solusinya.

Begitu juga bila kita memiliki memikirkan tentang kehidupan masa depan nanti, kita tak perlu cemas sebenarnya karena kita dapat usahakan itu dari saat ini. Apapun yang kita lakukan saat ini jika itu baik maka insyaAllah akan baik pula nantinya. Seperti kata pepatah “ apa yang akan kita tanam, itu yang akan kita tuai”.

Nah itu dia temen-temen semuanya, jadi menurut aku pribadi overthinking itu sah-sah saja namun bila kita terlalu larut dalam pikiran kita dan tak bergerak mencari solusi maka itu merupakan hal yang sia-sia. Jadikan tiap masalah adalah sarana mendewasakan diri dan melatih diri kita untuk memecahkan masalah.

-Afida